Blog - October 11, 2022

Stop Polusi Untuk Lindungi Bumi

Perubahan  iklim  yang  terjadi di   seluruh  dunia  dan  telah terasa mempengaruhi kehidupan   sehari-hari   akibat dari    terjadinya   peningkatan konsentrasi   gas  rumah  kaca terutama   disebabkan oleh  aktivitas   manusia  yang mengakibatkan      pemanasan global.  Perubahan iklim  telah memberikan dampak negative yang   dirasakan   masyarakat dunia,     antara    lain    adalah meningkatnya   banjir,    badai, kemarau    panjang,     naiknya muka  air  laut,   tenggelamnya pulau   atau   wilayah   pesisir,

kenaikan  suhu  air  laut,  meningkatnya  penyakit,  gagal  panen,  dan  sebagainya.  Hal tersebut tentunya sangat tidak diharapkan akan terus terjadi karena akan sangat merugikan dan menurunkan kualitas kehidupan manusia.  Di lain  pihak jika manusia tidak merubah  pola  hidupnya,  maka  kondisi  tersebut  akan  terus  memburuk.   Kondisi  ini merubah  banyak  sekali  pola  kehidupan  manusia  khususnya  dalam  merespon  dari dampak perubahan iklim tersebut.

Gas rumah kaca utama yang terus meningkat adalah karbon dioksida. Gas ini adalah salah satu gas yang secara alamiah keluar ketika kita menghembuskan napas, juga dihasilkan dari pembakaran batu bara, atau kayu, atau dari penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin dan solar. Sebagian dari karbon dioksida ini dapat diserap kembali, antara lain melalui proses ‘fotosintesis’ yang merupakan bagian dari proses pertumbuhan tanaman atau pohon.

Namun, kini kebanyakan negara memproduksi karbon dioksida secara jauh lebih cepat ketimbang kecepatan penyerapannya oleh tanaman atau pohon, sehingga konsentrasinya di atmosfer meningkat secara bertahap

Ada beberapa gas rumah kaca yang lain. Salah satunya adalah metan, yang dapat dihasilkan dari lahan rawa dan sawah serta dari tumpukan sampah dan kotoran ternak. Gas-gas rumah kaca lainnya, meski jumlahnya lebih sedikit, antara lain adalah nitrogen oksida dan sulfur heksaflorida yang umumnya digunakan pada lemari pendingin.

Negara-negara di seluruh dunia tanpa henti membuang gas-gas ini dalam jumlah besar ke atmosfer. Negara-negara maju mengeluarkan emisi lebih banyak per kapita, terutama karena mereka memiliki lebih banyak kendaraan atau secara umum membakar lebih banyak bahan bakar fosil, tetapi begitu negara-negara berkembang mulai membangun, mereka juga lalu menyusul dalam sumbangan emisi gas-gas ini. Lepas dari siapapun yang memproduksi gas itu, seluruh warga dunia terkena efeknya. Bumi dan atmosfer kita hanya ada satu: emisi tiap negara memperparah krisis dunia kita.

Masalahnya menjadi lebih parah karena kita sudah banyak kehilangan pohon yang dapat menyerap karbon dioksida. Brazil, Indonesia, dan banyak negara lain sudah menggunduli jutaan hektar hutan dan merusak lahan rawa.Tindakan ini tidak saja menghasilkan karbon dioksida dengan terbakarnya pohon dan vegetasi lain atau dengan mengeringnya gambut di daerah rawa, tetapi juga mengurangi jumlah pohon dan tanaman yang menggunakan karbon dioksida dalam fotosintesis – yang dapat berfungsi sebagai ‘rosotan’ (sinks) karbon, suatu proses yang disebut sebagai ‘penyerapan’ (sequestration).

Kehancuran hutan Indonesia berlangsung makin cepat saja – yaitu dari 600.000 hektar per tahun pada tahun 1980an menjadi sekitar 1.6 juta hektar per tahun di penghujung tahun 1990an. Akibatnya, tutupan hutan menurun secara tajam – dari 129 juta hektar pada tahun 1990 menjadi 82 juta di tahun 2000, dan diproyeksikan menjadi 68 juta hektar di tahun 2008, sehingga kini setiap tahun Indonesia semakin mengalami penurunan daya serap karbon dioksida.

Dengan meningkatnya emisi dan berkurangnya penyerapan, tingkat gas rumah kaca di atmosfer kini menjadi lebih tinggi ketimbang yang pernah terjadi di dalam catatan sejarah. Badan dunia yang bertugas memonitor isu ini Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) telah memperkirakan bahwa antara tahun 1750 dan 2005 konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat dari sekitar 280 ppm (parts per million) menjadi 379 ppm per tahun dan sejak itu terus meningkat dengan kecepatan 1,9 ppm per tahun. Akibatnya, pada tahun 2100 nanti suhu global dapat naik antara 1,8 hingga 2,9 derajat.1 (Data Dari UNDP Climate Change 2020)

Seperti apa persisnya yang akan terjadi sulit diperkirakan. Selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim, Iklim global merupakan suatu sistem yang rumit dan pemanasan global akan berinteraksi dengan berbagai pengaruh lainnya, tetapi tampaknya di Indonesia perubahan ini akan makin memperparah berbagai masalah iklim yang sudah ada. Kita sudah begitu rentan terhadap begitu banyak ancaman yang berkaitan dengan iklim seperti banjir, kemarau panjang, angin kencang, longsor, dan kebakaran hutan.

Salah satu pengaruh utama iklim di Indonesia adalah ‘El Niño-Southern Oscillation’ yang setiap beberapa tahun memicu berbagai peristiwa cuaca ekstrem kita. El Niño berkaitan dengan berbagai perubahan arus laut di Samudera Pasifik yang menyebabkan air laut menjadi luar biasa hangat. Kejadian sebaliknya, arus menjadi amat dingin, yang disebut La Niña.

Yang terkait dengan peristiwa ini adalah ‘Osilasi Selatan’ (Southern Oscillation) yaitu perubahan tekanan atmosfer di belahan dunia sebelah selatan. Perpaduan seluruh fenomena inilah yang dinamakan El Niño-Southern Oscillation atau disingkat ENSO. Pada saat terjadi El Niño, kita biasanya lebih sering mengalami kemarau. Ketika terjadi La Niña kita lebih sering dilanda banjir.

Leave a comments

error: Content is protected !!